Rabu, 21 Oktober 2009

Renungan Hati

Renungan Hati


Kini aku kembali lagi
Menghadap sang ilahi robbi
Setelah sekian lama lari
Berbuat dosa-dosa tak henti-henti
Perjalanan lorong hati yang sepi
Membuat aku lupa diri
Bahwa hidup ini Cuma sekali
Mungkinkah noda dan dosa ini
Menyatu dalam hatiku yang sepi
Tuhan hapuskanlah dosa di hati
Agar aku bisa menggapai surgamu yang abadi
Jangan biarkan diri ini
Hangus dalam neraka di selimuti api
Sungguh aku tak sanggup dengan semua ini
Dengan kehilapan dan kealpaan diri ini
Tuhan hapuskanlah noda dan dosa ini
Tuhan….Oh Tuhanku…..

Selasa, 20 Oktober 2009

Cintaku mati di Sulawesi

Cintaku mati di Sulawesi
Hari Senin adalah hari pertama kali bagi SD kami masuk sekolah. Setelah liburan semester dua minggu yang lalu. Kulangkahkan kakiku ditengah putihnya kabut yang menyelimuti pagi. Karna hari senin adalah hari yang begitu menakutkan bagi setiap siswa. Terlambat satu menit saja bisa kena sanksi dari guru. Saat Aku tiba disekolah satu siswapun belum yang hadir kecuali Aku. Aku duduk dikelas sendirian. Kupilih kursi paling belakang. Disaat bersamaan Aku duduk muncul sosok Siswi berambut ikal dengan seorang bapak-bapak dibelakangnya masuk kedalam kelas. Aku pikir dia seorang Siswi baru dikelas kami. Karna mana mungkin Siswi lama pergi kesekolah diantar oleh Oarang tuanya. Apalagi sekarang sudah kelas empat SD.
Ternyata dugaanku benar sekali. Dia Adalah seorang murid baru dikelasku. Namanya Santi dan dia tinggal di pesisir sungai dekat desaku. Aku tahu itu, setelah Bu Tuti mempersilakan Dia untuk memperkenalkan diri. Bu Tuti pada tahun itu ditugaskan untuk menjadi Wali kelas kami. Karna Aku baru mengenal sosok seorang santi hanya namanya saja, dan wajahnya masih samar-samar dalam ingatanku. Aku belum begitu berani untuk menyapanya. Entah mengapa baru pertama kali Dia masuk sekolah, tingkah lakuku sudah banyak berubah. Aku yang dulunya menjadi murid pendiam. Kini menjadi murid yang sedikit banyak komentar. Dan Aku pikir Apakah ini yang namanya pucuk dicinta ulampun tiba?.
Semua teman-temanku kelihatannya begitu banyak perubahan dalam kesehariannya. Kakak kelasku disaat melihatnya bagaikan kesentrum listrik.memang paras wajahnya yang cantik dan bentuk tubuhnya yang begitu sempurna dimataku, sudah menjadi hal yang biasa untuk menjadi rebutan.
Pernah suatu ketika disaat istirahat.karna ingin cari perhatiaanya. Aku tidak sengaja membuat Dia menangis. Sebenarnya Aku hanya ingin memegang topinya, tapi kakak kelasku mendorongku. Ya terpaksa salah sasaran, malahan hidungnya kepencet oleh tanganku. Mau minta maaf rasanya malu begitu merasuki tubuhku. Akhirnya Aku pergi begitu saja dari pandangannya tanpa kata maaf yang keluar dari bibirku.
Disaat pulang sekolah, aku selalu mencari perhatiannya, entahlah kenapa semua harus terjadi. Kemana Aku pergi selalu bayangan wajahnya yang merasuki pikiranku. Karna hal ini terus terjadi, Aku coba bertanya pada seorang kakak kelasku , karma Aku pikir mungkin Dia pernah mengalalmi hal seperti ini.
Betapa tiada Aku duga. Setelah Aku tanyakan, ternyata itulah yang namanya jatuh cinta. Dalam diam Aku berpikir. Betapa susahnya kalau sudah jatuh cinta. Dan ternyata cinta tidak mengenal umur. Karna Aku baru naik kelas empat SD, dan rasa cinta itu begitu menusuk jantungku.rasa penasaran terus muncul dari hatiku.Apakah benar yang dikatakan oleh kakak kelasku itu. Sikapku yang selalu meminta perhatiannya, kini Aku rubah menjadi seorang pendiamm dan tidak banyak tingkah.
Hari-hari demi hari telah berlalu. Dan ternyata semua itu benar-benar terjadi pada diriku dan dirinya. Aku perhatikan selama ini sikapnya yang selalu berbeda sebelumnya. Dulu Dia selalu cuek dan tidak begitu menghiraukan diriku, dan sekarang rasa perhatiannya padaku semakin besar.
* * *
Satu tahun telah berlalu. Kujalani masa-masa jatuh cintaku padanya begitu sangat membekas dalam hatiku dan hal itu tiada bisa Aku lupakan sampai saat ini. Keyakinanaku bertambah bahwa Dia juga merasakan itu pada diriku.
Hari pertama masuk sekolah, karna para Guru belum banyak Datang. Dan saat itu kelas kami sangat ribut, tiba-tiba muncul sosok seorang wanita menuju kekelas kami.
“Sekarang kalian belajar apa?” Ujar Bu Tati sedikit lantang
“Sekarang kami belajar Agama Bu.” Ujar kami sedikit lemas karna takut
“Siapa ketua kelsanya?”
“Herman Bu, ketua kelasnya.”
Mendengar ucapan itu Akupun terkejut, Karna Bu Tati menanyakan Aku. Dalam hati Aku berpikir, bagaimana ini Aku pasti dihukum.
“Maju sini, bawa buku Agamanya!”
“Bu, bukunya tidak Ada.” Ujarku
“Bagaimana kalian belajar?”
“Bu Guru Agama yang membawa sendiri buku itu.”
“Coba siapa yang punya?”
“Saya Bu.” Ujar salah satu temanku
“Sekarang Herman kamu catat dari halaman satu sampai halaman tiga!”
Mendengar capan itu hatiku menjadi lega. Karna Bu Tati tidak menghukumku. Disaaat Aku menulis, ternyata tulisanku ada yang kurang dan terpelewat.
“Herman tulisan kamu ada yang kurang .” Ujar temanku
“Oh, Iya maaaf.” Ujarku sedikit malu
Salah seorang temanku dibelakangmemarahi Aku.
“Bagaimana jadi ketua kelas tidak becus.” Ujarnya
Mendengar ucapan itu, Aku tak kuasa menahan malu. Lalu Aku banting buku itu dan Aku kembali duduk dikiursiku. Tak ada seorang pun yang mau maju menggantikaknku kecuali hanya Santi yang maumaju dan menggantikanku menulis.
Disaat dia menulis kupandangi tubuhnya dan gerak tangannya. Dalam diam Aku berpikir kenapa harus dia yang menggantikanku, kenapa tidak yang lain saja. Dan Aku pikir inilah tanda bahwa dia juga mencintaiku. Dan Aku berharap bukan bukan hanya tanda, tapi kenyataan bahwa Aku bisa menjalin hubungan cinta dengannya.
Ternyata harapanku benar-benar terjadi. Disaat detik-detik kelulusan SD. Dia mengucapkan kata-kata itu lewat teman-temannya. Walaupun hanya lewat teman-temannya, tetapi Aku yakin bahwa dia juga mencintaiku. Dan kini rasa kecewalah yang Aku berikan padanya. Karna Aku akan melanjutkan kesekolah swasta yang jaraknya jauh.memungkinkah untuk berkomunikasi dan bertemu itu jarang. Aku sampaikan itu pada temannya bahwa semunya sudah terlambat.
Setelah pendaftaran sekolahku selesai dan satu minggu lagi aku akan pergi. Sebuah surat undangan datang kepadakudan sebuah kado. Dalam surat itu dia tuliskan, bahwa hari senin akan diadakan acara perpisahan dirumahnya. Ternyata hari senin bukanlah hari keberuntungan bagiku. Walaupun Aku tidak bisa datang kerumahnya, tetapi cukuplah kado untuk memenuhi undangannya, dan itu juga sebgai balasan atas kado yang pernah dia berikan kepadaku.
* * *
Setelah Tiga tahun berlalu perjalanan sekolahku dikota. Aku pulang kerumah dan kembali bertemu sosok seorang Santi yang Aku impikan dan Aku harapkan bahwa dialah yang menutup celah hatiku yang kosong. Walaupun ketika kelas satu SMP Aku sering bertemu dengannya dan pertemuan tidak mengisakan sesuatu apapun pada diriku.
Betapa hatiku rasanya begitu hancur saat aku dengar bahwa dia akan pergi ke Sulawesi bersama keluarganya. Mendengar berita itu. Satu minggu kemudian aku pulang. Sebelum Aku pulang, Aku mencoba menelponnya, ternyata kalaulah jodoh memang tidak kemana.
“Halo ini Santi yach?” Ujarku dengan decak kagumku
“Yach ini Santi, Emang ini siapa yach?” Ujarnya
“Ini Aku, Herman teman SD kamu kemarin.”
“Oh, Hendra yach. Ada apa herman?”
“Nggak, Aku cuma mau Tanya apa benar kamu akan pergi ke Sulawesi.”
“yach sich, rencananya begitu.”
Mendengar ucapan itu, Aku terdiam sejenak. Pelahan air mataku menetes dan membasahi kedua pipiku. Dalam hati Aku berpikir, apakah dialah cinta sejatiku. Karma baru pertama kali Aku jatuh cinta. Sudah begitu menyayat hati rasanya ditinggal seorang yang begitu Aku cintai. Rasa penyesalan telah memukul hati keras-keras. Kenapa dulu cintanya pada Aku biarkan hilang begitu saya.
“Santi bolehkah Aku memberitahu satu hal padamu, tapi Aku minta kamu menjawabnya dengan hati yang tulus.” Ujarku dengan air mata bercucuran
“Ya boleh, emang apa sich yang ingin kamu beritahukan padaku?”
“Sebenarnya dari awal Aku mengenal dirimu dan sampai saat ini rasa cintaku padamu tak akan pernah berubah.”
“Ah, sudahlah tak ada gunanya cinta itu, disaat Aku akan pergi, semua baru engkau ungkapkan padaku. Dan kalau memang mencintaiku, kenapa diwaktu kelulusan kemarin engkau ucapkan kata terlambat , padahal Aku ingin sekali menjalin hubungan denganmu, tapi sudahlah semua sudah terjadi.”
“Santi, sebenarnya kemarin itu bukan maksud hatiku menolak cintamu, akan tetapi engkau tahu kondisi kita bagaimana, jarak yang begitu jauh, komunikasi yang begitu tidak memungkinkan, dan itulah kenapa kata itu yang hanya bias keluar dari bibirku. Dan Aku minta maaf.”
“Sekarang engkau baru mau minta maaf, setelah semuanya begini, sudahlah nanti aku pikir lagi tentang cintamu padaku.”
“Santi, bolehkah Aku bertemu kamu satu kali saja.”
“Kapan engkau mau menemuiku?”
“Insya Allah, besok Aku akan pulang kerumah.”
“Ya sudah, besok Aku tunggu dipintu masuk.”
“Jam berapa kira-kira Aku menemui kamu.”
“yang jelas setelah Aku pulang sekolah.”
Hari yang telah dijanjikan telah tiba. Aku bergegas bangun dan mandi. Ditengah putihnya kabut pagi kulangkahkan kaki menuju terminal. Aku pesan tiket, jam delapan berangkat. Betapa Aku merasa kecewa oleh jam yang dijanjikan. Setelah Aku lihat jam, ternyata hari sudah jam sepuluh pagi. Lalu Aku putuskan membatalkan tiket. Walaupun uangnya dipotong sedikit. Aku bergegas pergi kejalan raya, kulihat sebuah mobil kuning melalju kehadapanku.
Setelah tiga jam lamanya perjalanan. Aku turun dan kulihat kepintu masuk, tapi hasilnya nihil. Tak ada sosok seorangpun yang duduk disana. Rasa kesal yang hanya bias menemaniku. Tak lama Aku duduk muncul sebuah mobil. Lalu Aku naik dan pulang kerumah.
Setelah beberapa hari Aku berada dirumah. Rupanya pertemuanku tidak hanya berhenti disitu saja. Disaat Aku berkunjung ketempat nenekku, tidak sengaja Aku berpapasan dengannya.
“Herman, kapan kamu pulang?” Ujarnya menyapa diriku
“Kemarin sore Aku sampai dirumah.” Ujarku sedikit malu, karna janjiku untuk bertemu dengannya telah Aku ingkari.
* * *
Ternyata pertemuan itu adalah pertemuan terakhirku dengannya. Disaat Aku pulang kekota. Karna hari libur sudah habis . Aku kembali mencoba untuk menelponnya. Kesempatan terakhir masih milikku.
“Halo Santi, Apa kabar?” Ujarku dengan semangat yang tinggi
“Kabarku baik-baik ajach, kamu sendiri bagaimana?” Ujar Santi
“Alhamdulillah, Kabarku baik juga.”
“Oh iya, Kamu sekarang ada dimana?”
“Aku sekarang ada dibandara.”
“Jadi besok kamu berangkat?”
“Ya rencananya begitu, karma tiket sudah kami pesan.”
Rasanya air mataku membanjiri sekelilingku. Kenapa orang yang Aku cintai harus pergi begitu capat dari hadapanku.
“Herman kenapa kamu nangis?” Ujar Santi
“Tidak Akh, Aku tidak apa-apa.”
“Herman, sudahlah lupakan saja masa lalu yang pernah ada diantara kita. Karna jarak dan waktu telah memisahkan kita. Sekarang akan kujawab cintamu. Sebenarnya Aku juga mencintai dirimu. Akan tetapi harus bagaiman lagi, kalaulah kita memang jodoh, suatu saat nanti kita akan bertemu kembali.,”
“Tapi Santi, bagiku kepergianmu adalah penutup semua harapanku.” Ujarku
“Herman, harapanmu bukan tergantung pada cintaku, tapi harapanmu berada ditanganmu, jadi jangan putus asa.”
Terputus sudahlah obrolanku dengan Santi. Berapa kali Aku mencoba menghubunginya, tapi hasilnya tetap nihil, tak ada jawaban. Sudahlah mungkin inilah obrolanku terakhir dengannya.
24 Januari 2007 adalah hari dimana mereka akan segera berangkat menuju Sulawesi. Satu bulan setelah itu, Aku kembali mencoba menghubunginya. Tapi tetap tidak bisa dihubungi. Hanya ada sebuah SMS yang Aku terima darinya.
“Herman, bukan Aku tidak mau mengangkat teleponmu, tapi Aku takut dimarahi Ayahku. Aku mohon kamu jangan marah sama Aku yach.” Ujarnya dalam SMS itu
Setelah SMS itu Aku terima, dan Aku baca. Aku tidak pernah lagi menghubunginya. Hingga hari-hariku selalu sepi dan termenung dalam kesendirian. Seorang teman mencoba menghiburku. Tapi hiburan itu hanya lewat dan berlalu begitu saja, dan tidak pernah Aku hiraukan. Karna mereka selalu membuatku marah, dan menyuruh Aku agar melupakan Santi. Tapi Aku tidak bisa, karna bagiku dialah orang yang terakhir dihatiku.
Lama kelamaan hatiku bisa juga mereka taklukkan. Dan Aku pikir apa yang mereka katakan memang benar. Untuk apa Aku memikirkan Santi yang dia juga belum tentu memikirkan Aku. Dan hatiku mulai ada rasa untuk melupakan Santi dan mencari penggantinya dihatiku. Kini seseorang telah mencoba merasuki hatiku. Entahlah mengapa begitu cepat Aku melupakan Santi. Seseorang itu adalah temannya Santi di SMP dulu sebelum dia pergi ke Sulawesi. Yang membuat Aku tidak percaya, kenapa begitu cepat dia merasuk kedalam hatiku. Semakin lama Aku dekatnya semakin membuat Aku tenang dan seakan diriku berada dalam belaian seorang Santi. Suaranya yang begitu merdu dan suara itulah yang membuat Aku tenang dan selalu memancar pikiranku untuk kembali mengingat seorang Santi.
Setelah satu minggu Aku bertemu dengannya dan sering mengobrol ditelepon denganku. Tiada Aku sangka pada malam kedua minggu dia mencoba mencuri hatiku. Dia menyatakan bahwa dia mencintai diriku. Awalnya Aku menolak untuk menjalin hubungan dengannya. Namun hatiku tiada bisa menahan lagi dan malam itu juga hatiku telah menyatu dengannya. Aku rasa mungkin itulah pertanda bahwa diriku tak akan mungkin lagi beretmu dan mengingat Santi.
Kini Aku hanya bisa mengatakan selamat tinggal Santi yang jauh disana. Mungkin inilah pertanda bahwa cintaku padamu telah padam dan akan mati untuk selamanya. Saat ini Aku tengah mencoba untuk melupakan dirimu, karna Aku rasa tiada mungkin lagi kita bisa menyatu disini. Aku pikir cintaku benar–benar telah mati. Dan kini harus Aku paksakan untuk menguburnya dalam-dalam. Saat itu hanya ada sebuah puisi yang Aku buat. Puisi itu adalah ungkapan hatiku yang terdalam dan tulus.
Kasih mengapa kau pergi
Membuat hatiku sepi
Tanpa seorang kekasih
Cintaku hanya tulus untukmu
Dengan seluruh jiwa dan ragaku
Akan kukorbankan yang kau mau
Namun engkau hapus semua
Membuat harapanku punah
Kini harus oarang lain dihati
Hadir untuk menemani
Maafkan cintaku hilang
Entah mengapa bayangmu melayang
Jauh terbang diatas awan
Tiada bisa aku menahan
Pusi itulah yang membuat Aku rasa terpenjara dalam cinta. Selain puisi itu, aku selalu menangis disaat aku mendengar sebuah nyanyian yang dilantunkan oleh Vagetoz dengan lirik yang begitu menyentuh hatiku, dan judul liriknya adalah “Saat Kau Pergi”. Kini cintaku mati di Sulawesi dan berakhir tanpa alasan yang pasti.